Laman

Kamis, 01 November 2012

Permainan Tradisional Membagun Kreatifitas Anak



          Permainan Tradisional sangat cocok bagi media pembelajaran pendidikan anak usia dini. Alasannya, permainan tradisional mengandung banyak unsur manfaat dan persiapan bagi anak menjalani kehidupan bermasyarakat.
       
Menurut Kepala Pusat Pengembangan Pendidikan Non Formal dan Informal Regional I Direktorat Jenderal Pendidikan Non Formal dan Informal Regional Departemen Pendidikan Na sional Haris Iskandar, Senin (15/12) di Bandung.
         
Menurut Haris, pihaknya berhasil menginden tifikasian 43 jenis permainan tradisional di Jawa Barat. Umumnya permainan dilakukan anak usia 6 12 tahun dan hanya 22 jenis permainan bagi anak 4 6 tahun.
         
Selain itu, penelitian yang dilakukan Komunitas Mainan Rakyat Jawa Barat, Hong, berhasil mengidentifikasikan 186 jenis permainan, khususnya daerah selatan dan tengah Jabar. Semuanya mengandung unsur filosofis tinggi tapi sangat disayangkan karena permainan tradisional mulai dilupakan. Beberapa jenis permainan tradisional itu adalah cinciripit, galah bandung , dan bebentengan .
          
Haris mengatakan dengan permainan tradisional anak-anak bisa mempelajari pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Selain itu, permainan tradisional bisa juga dapat mengembangkan aspek peng embangan moral, nilai agama, sosial, bahasa, dan fungsi motorik.
          
Contohnya permainan congk lak. Selain belajar mengelompokan benda berdasarkan bentuk atau membedakan besar kecil, permainan yang dimainkan dua orang ini juga mengajarkan anak aspek sosial , emosional , dan moral agama yang tinggi, katanya.
          
Oleh karena itu ia memandang, permainan tradisional bisa menjadi sarana yang baik dalam mengembangkan pendidikan anak usia dini. Salah satu yang ut ama mamapu memberikan unsur pendidikan pada anak dengan biaya murah dan hasil yang memusakan.
       
Hal yang sama dikatakan Rudi Co rens dari Museum Anak Kolong Tangga Yogyakarta. Menurutnya , permainan tradisional di Indonesia pada dasarnya hanya sedikit yan g menitikberatkan sekedar unsur relaksasi. Kebanyakan, permainan justru diarahka n sebagai aspek persiapan anak untuk mempersiapkan kehidupan selanjutnya. Banyak hal yang terkandung dala permainan tradisional seperti panutan hidup. Materi, proses, dan fungsi yang dimiliki maninan tradisional juga merupakan media yang tepat untuk belajar.
      
Lewat permainan tradisional, tidak perlu paksaan. Anak bisa bermain ceria. Setelah permainan usai, tanpa mereka sadari ada bekal yang didapatnya, ujar Rudi.
      
Menurut Menurut Mohammad Zaini Alif dari Komunitas Hong , ada banyak hal yang bisa diambil dari mainan tradisional. Permainan tradisional memberikan pembelajaran kepada anak mengenai pentingnya menjaga lingkungan, menghormati sesama, hingga cinta kepada Tuhan. Contohnya adalah permainan Sunda seperti jajangkungan, hatong , celempung, dan kolecer.
      
Mainan tradisional juga dekat dengan alam dan memberikan kontribusi bagi pengembangan pribadi anak. Permainan tradisional yang bisa dibuat sendiri melatih kreativitas dan tanggung jawab anak.(CHE) sumber:kompas.com


Permainan Tradisional versus Teknologi
         Permainan tradisional merupakan permainan yang relatif sederhana namun memberikan manfaat luar biasa jika kita menelusuri makna dari permainan itu secara mendalam. Namun keberadaannya sekarang mulai tergeser oleh permainan modern, seperti PlayStation (PS) dan jenis permainan canggih lainnya.
             Setiap daerah mengenal permainan tradisional dengan namanya masing-masing. Permainan ini dahulu sering dimainkan oleh anak-anak untuk mengisi hari-hari bermain mereka. Namun sekarang, terutama di kota-kota besar, permainan tradisional mulai ditinggalkan. Banyak hal yang menyebabkan permainan tradisional mulai ditinggalkan, diantaranya adalah sebagai berikut :
  •      Kemajuan teknologi terutama dalam bidang permainan anak-anak.
       Setiap negara menginginkan negaranya menguasai teknologi sesuai dengan perkembangan jaman. Namun disadari atau tidak kemajauan teknologi terutama dalam bidang permainan anak-anak membuat tergesernya permainan tradisional.
  •      Adanya perdagangan bebas.
      Secara tidak langsung perdagangan bebas turut mengancam keberadaan permainan tradisional, terutama di negara yang menjadi “pasar”. Banyak permainan anak dari negara lain yang beredar dan terkesan mampu mengahadirikan permainan yang lebih menarik.
  •     Dunia anak yang penuh dengan imajinasi ditransformasikan pada permainan modern semisal PlayStation.
 Manfaat Permainan Tradisional
         
        Dibalik permainan yang terkesan sederhana, sebenarnya permainan tradisional memiliki manfaat yang baik untuk perkembangan pertumbuhan anak. Banyak hal yang di dapat dari seorang anak dari sebuah permainan tradisional lewat proses bermain. Dalam hal ini si anak terlibat secara langsung baik fisik maupun emosi sehingga sangat mempengaruhi masa pertumbuhannya.
Adapun manfaat dari permainan tradisional adalah sebagai berikut :
  •      Mengembangkan kecerdasan intelektual.
       Banyak permainan anak yang dapat mengembangkan kecerdasan intelektual biasanya dalam proses pembuatan alat permainan tradisional, contohnya permainan layang-layang. Seorang anak  yang membuat layang-layang disadari atau tidak mereka mengunakan daya rasionalnya dalam membuat sebuah layang-layang untuk bisa diterbangkan. Untuk bisa terbang layang-layang harus seimbang anatara sisinya. Namun sayangnya layang-layang dewasa ini banyak yang diperjual belikan sehingga seorang anak cenderung berfikir instan.
  •      Mengembangkan kecerdasan emosional.
    Dalam sebuah permainan tradisional selain melatih kecerdasan intelektual juga dapat mengembangkan kecerdasan emosi seorang anak. Anak terlibat dalam sebuah permainan yang berbentuk kelompok, seperti petak umpet, bentengan, maupun yang lainnya,  di dalamnya akan ada proses saling mempengaruhi dan mengatur satu sama lain yang hal ini dapat pula membentuk jiwa-jiwa kepemimpinan.
  •      Mengembangkan daya kreatifitas.
         Kebanyakan alat permainan tradisional sangat sederhana dan mudah di dapat. Namun lewat hal ini seorang anak dapat terlatih daya kreatifitasnya dalam menjadikan sebuah alat dalam permainan tradisional. Misalnya mobil-mobilan yang terbuat dari serabut kelapa maupun jeruk bali. Hal ini tentu dapat menunjang daya kreatifitas anak.

Lincah Dan Cekatan Berkat Permainan Tradisional
                    
     Harus diakui, seiring dengan majunya teknologi, anak-anak yang tinggal di kota-kota besar semakin asing dengan permainan tradisional yang sebetulnya banyak bermuatan rangsangan positif. Bila keadaan ini terus berlanjut, menurut Dra. Mayke S. Tedjasaputra, MSi, besar kemungkinan permainan-permainan tradisional itu kelak tak lagi dikenal, apalagi dimainkan oleh anak-anak.
       Hal ini tentu tidak terjadi begitu saja, karena biasanya orang tualah yang lupa memperkenalkan permainan di masa kecilnya kepada anak-anak. “Sebaliknya, suatu permainan akan terus bertahan jika kita menurunkannya secara estafet ke anak kita, lalu dari anak kita diturunkan lagi ke cucu kita, dan selanjutnya.”
      Mayke juga mengingatkan, imbas permainan modern yang mengandalkan aneka bentuk dan jenis menarik bukan satu-satunya faktor yang mengalahkan pamor permainan tradisional. Jangan lupa, makin sempitnya areal atau lahan tempat anak bermain di alam bebas, serta makin sibuknya anak dalam aktivitas sehari-hari juga membuat permainan tradisional ini makin terlupakan.
Ditambah lagi, stimulus yang anak dapatkan setiap waktu selalu bernuansa modern, seperti pergi ke mal, makan di resto yang menyediakan menu modern, atau belajar dengan memakai sarana komputer. Tak heran bila anak-anak kita, apalagi cucu-cucu kita nanti semakin miskin dalam pengalamannya bermain permaianan tradisional.

ANEKA MANFAAT

       Menurut Mayke, permainan modern bisa dengan mudah menggusur permainan tradisional karena bentuknya yang variatif, begitu pula warna dan jenis permainannya. Mendapatkannya juga mudah, bisa dimainkan di mana saja, bisa dilakukan kapan saja (jenis indoor), dan walaupun tanpa teman anak bisa memainkannya dengan seru.
     Sementara, hampir semua permainan tradisional harus dilakukan dengan teman, membutuhkan ruang terbuka (outdoor), dan kebanyakan harus dimainkan di arena yang cukup luas. Anak-anak kadang juga harus berusaha dulu sebelum bisa melakukan salah satu permainannya, seperti membuat gambar atau membuat alatnya. Variasi untuk satu jenis mainan pun tidak banyak; penampilannya juga tak semenarik permainan modern.
     “Walaupun begitu, permainan seperti engklek, yoyo, congklak, dan petak umpet sebetulnya bisa juga dimainkan di dalam ruangan. Jadi, permainan tradisional pun sebetulnya bersifat fleksibel atau bisa dimainkan di mana saja. Galah asin, misalnya, meskipun lebih seru dimainkan di luar ruang, tapi kalau situasi tidak memungkinkan, bisa saja dimainkan di dalam ruang. Hanya saja tempatnya harus luas, di lapangan bulu tangkis atau aula, misalnya,” urai Mayke.
     Karena permainan tradisional umumnya dilakukan berkelompok, maka permainan ini otomatis mengajarkan kebersamaan, seperti dalam gobak sodor atau engklek. Beda dengan permainan berteknologi canggih yang umumnya dimainkan secara individual. “Memang, sih, ada juga permainan tradisional yang bisa dimainkan secara soliter selain bersama teman-teman, seperti yoyo, layang-layang, dan ketapel.”
     Selain itu, permainan tradisional juga mengajarkan sportivitas dan aturan main yang disepakati bersama. Dengan gerakan-gerakan seperti berlari, berkelit, melompat, atau menaikturunkan tangan, fisik anak pun dilatih secara aktif. Jadi, dengan bermain permainan tradisional anak bisa mengasah kemampuan motorik, baik kasar maupun halus, serta gerak refleksnya.
    Contoh sederhananya, dalam permainan galah asin, selain gerakan motorik, anak juga dilatih bersikap cekatan, berkonsentrasi, dan melihat peluang degan cepat untuk mengambil keputusan terbaik agar bisa menangkap lawan. Permainan seperti congklak, bahkan merangsang anak menggunakan strategi. Anak harus pandai menentukan poin atau biji di lubang mana yang harus diambil terlebih dahulu agar bisa mengumpulkan biji lebih banyak dari lawan.
     Melihat manfaat-manfaat di atas, menurut Mayke, sebenarnya permainan tradisional ini penting dilakukan oleh anak-anak zaman sekarang. Selain untuk memperoleh manfaat yang tidak bisa didapat dari permainan modern, juga untuk mendapatkan wacana lain yang bisa membuat hidup anak lebih kaya dan berdinamika. “Terlebih, keterampilan fisik mempunyai kaitan erat dengan bekerjanya fungsi-fungsi saraf,” papar Mayke.
      Hanya saja, kalau ditanya, permainan mana yang paling baik buat anak, yang tradisional atau yang modern? Menurut Mayke, tidak ada yang lebih baik ataupun lebih jelek. Ia berpendapat antara permainan tradisional dengan permainan modern punya manfaat yang saling melengkapi. Dari permainan modern, anak-anak bisa mendapat rangsangan yang bersifat kognitif, sedangkan yang bersifat fisik, kebersamaan, dan ketangkasan bisa diperoleh dari permainan tradisional.
  
BERI CONTOH LEBIH DAHULU

      Sebenarnya tak sulit memperkenalkan permainan tradisional itu. Mayke menyarankan, “Ajak anak dan teman-temannya melakukan salah satu permainan, lalu beri contoh cara memainkannya. Terangkan kepada mereka bahwa permainan itu tidak kalah seru dari permainan yang menggunakan baterai, tombol atau monitor. Beri tahu juga bahwa kita dulu sering melakukan permainan tersebut setiap hari. Tak ada salahnya, kita ajak anak untuk membuat terlebih dahulu alat permainannya, misal, membuat ketapel, gasing, ataupun gatrik. Jika memungkinkan, boleh saja kita beritahu trik-trik jitu dalam melakukan permainan tersebut.”
     Jelaskan kepada anak bahwa stok permainan tradisional sangat banyak, sehingga mereka tak bakalan kehabisan. “Boleh dibilang, Indonesia ini sangat kaya akan permainan tradisional. Dari Sabang sampai Merauke mempunyai permainan tradisional khas daerahnya masing-masing,” ungkap Mayke.
     Uniknya lagi, permainan tradisional Indonesia mempunyai waktu main tertentu, ada yang hanya bisa dilakukan di sore hari, siang hari, atau malam hari. Contoh, permainan Gatok dari Aceh yang menggunakan biji pinang dan tangan sebagai pelenting buah pinang, akan seru jika dilakukan di sore hari. Sementara permainan Nsya Asya/Tok Asya dari Papua, atau balapan menggelindingkan rotan yang dibentuk seperti ban, biasanya dilakukan pagi hari. Satu lagi, permainan oray-orayan dari Jawa Barat paling seru jika dimainkan kala terang bulan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar