Halaman


Tampilkan postingan dengan label PKTI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PKTI. Tampilkan semua postingan

Minggu, 30 Juni 2013

MASALAH DAN PERENCANAAN JUDUL PENELITIAN


A.       Masalah
1.      Pengertian Masalah
Suatu kesenjangan antara harapan dengan kenyataan, perundang-undangan dengan pelaksanaan, peraturan dengan implementasinya, teori dengan praktik, sehingga menarik minat dan perhatian untuk diteliti.
2.      Pengertian Masalah Penelitian
Dalam pengertian umum, masalah penelitian adalah suatu pertanyaan atau pernyataan yang menyatakan tentang situasi yang memerlukan pemecahan melalui penelitian, atau keputusan atau perlu didiskusikan. Secara lebih spesifik, masalah penelitian merupakan pertanyaan yang menanyakan hubungan antar variabel penelitian. Pengertian lain menunjukkan bahwa masalah merupakan kesenjangan antara situasi yang diharapkan dengan situasi yang ada. Dapat juga dikatakan sebagai kesenjangan antara tujuan yang ingin dicapai dengan keterbatasan alat dan sumberdaya yang dimiliki untuk mencapai tujuan tersebut. Masalah juga dapat dikatakan sebagai kesenjangan antara teori dan praktik.
Untuk menjadi suatu masalah penelitian khususnya penelitian survei, harus memenuhi beberapa kriteria sebagai berikut:
a.       Suatu masalah penelitian harus menggambarkan hubungan antara dua variabel atau lebih.
b.      Walaupun tidak merupakan suatu keharusan bahwa suatu masalah harus dinyatakan dalam bentuk pertanyaan, akan tetapi banyak ahli penelitian menyarankan bahwa masalah penelitian hendaknya dinyatakan dalam bentuk pertanyaan. Suatu masalah penelitian yang dinyatakan dalam bentuk pertanyaan akan lebih mengarahkan pada jawaban yang diharapkan. Dengan bentuk pertanyaan, jawabannya akan lebih jelas dan langsung pada sasarannya.
c.       Suatu masalah penelitian memerlukan pengujian secara empirik. Pengujian empirik berarti bahwa pemecahannya dilandasi oleh bukti-bukti empirik yang diperoleh dari lapangan, dengan jalan mengumpulkan data yang relevan.
3.      Masalah yang Baik untuk Diteliti
a.       Masalah yang tepat diteliti yaitu masalah yang dihadapkan pada suatu kebutuhan atau tantangan bagi peneliti.
b.      Masalah mudah dirumuskan sehingga menjadi jelas batasannya, kedudukan dan alternatif cara pemecahannya.
c.       Memiliki hipotesis yang jelas sebagai titik tolak dalam penelitian dan alternatif pemecahannya.
d.      Mudah dalam pengumpulan data untuk menguji hipotesis.
e.       Mudah dalam menarik kesimpulan berdasarkan hasil pengolahan data dan dikembalikan pada jawaban hipotesis yang sudah dirumuskan.
f.       Dapat memecahkan masalah yang diteliti sehingga dapat menemukan kebenaran serta implikasinya untuk memberi saran-saran agar masa depan lebih baik.

B.        Perencanaan Judul Penelitian
Sebelum menentukan suatu judul penelitian, terlebih dahulu dilakukan pemilihan tema. Tema adalah gagasan sentral atau ide pokok sebuah karangan. Dalam hal ini tema dapat dipilih dari berbagai bidang kehidupan, misalnya : ekonomi, sosial, politik, teknologi, pendidikan dan lain sebagainya.
Tema karya ilmiah yang baik, setidaknya harus memenuhi lima syarat sebagai berikut:
1.      Menarik untuk ibicarakan oleh komunitas pembaca.
2.      Memiliki nilai urgenitas yang cukup lama dalam kehidupan masyarakat.
3.      Aktual, sedang hangat dalam pembicaraan publik.
4.      Sesuai dengan minat keilmuan penulis.
5.      Terjangkau oleh kemampuan penulis, baik kemampuan akademik atau keilmuan, ketersediaan bahan, referensi, tenaga, waktu dan biaya.
Syarat aktual terutama berlaku bagi karya iliah artikel, resensi, dan makalah. Adapun tema skripsi, tesis dan disertasi pada umumnya disesuaikan dengan disiplin ilmu penulis dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Setelah pemilihan tema, kemudian menentukan topik. Topik adalah pokok kajian yang dapat diturunkan atau diambil dari tema atau sub tema. Topik yang merupakan sub tema tersebut tersedia banyak di sekitar kita. Misanya:
1.      Bidang sosial mencakup masalah kemasyarakatan, sistem dan pranata sosial, fenomena gerakan perempuan masa kini, bias jender dalam kehidupan masyarakat kita.
2.      Bidang ekonomi meliputi perbankan, manajemen, akutansi, asuransi, bisnis, perdagangan bebas, strategi bisnis nasional, pengembangan sector informal, koperasi.
3.      Bidang teknologi dan industri mencakup teknologi nuklir, industri pertanian, teknik lingkungan.
4.      Bidang kebudayaan meliputi transformasi budaya, kebudayaan popular, pergeseran nilai budaya, kebudayaan lokal, dan sebagainya.
5.      Bidang pendidikan mencakup pembelajaran berdasarkan KTSP, pengembangan bahan ajar, pembelajaran dengan metode CTL ( Contextual Teaching and Learning), implikasi pelaksanaan UU guru dan dosen, dan sebagainya.
6.      Bidang keagamaan meliputi pendidikan agama dalam masyarakat multikultural, menyoroti moral generasi muda terpelajar kita, membangun generasi muda yang islami, dan sebagainya.
Dalam pemilihan topik yang akan dibahas, dalam karya ilmiah, keraf (1984:111) menyatakan bahwa lebih baik menulis sesuatu yang menarik perhatian dengan pokok persoalan yang benar-benar diketahui atau dikuasai daripada menulis pokok-pokok yang tidak menarik atau tidak diketahuinya sama sekali.
Sehubungan dengan hal itu, berikut hal-hal yang layak dipertimbangkan dengan seksama oleh penulis karya ilmiah:
1.      Topik yang dipilih harus benar-benar topik yang kita ketahui atau yang kita kuasai, baik dari segi pengetahuan maupun pengalaman kita.
2.      Topik yang dipilih haruslah topik yang paling menarik perhatian kita.
3.      Topik yang dipilih terpsat pada suatu segi yang lingkupannya sempit dan terbatas.
4.      Topik yang dipilih memungkinkan tersedianya data dan fakta yang objektif, dan hindarilah topik yang bersifat subjektif seperti kesenangan atau angan-angan kita.
5.      Topik yang dipilih harus kita ketahui prinsip-prinsip ilmiahnya, walaupun serba sedikit.
6.      Topik yang dipilih harus memiliki sumber acuan yang memadai, memiliki bahan kepustakaan yang akan memberikan informasi tentang pokok masalah yang akan ditulis.
Setelah memilih tema dan menentukan topik, tahap selanjutnya adalah menetapkan judul. Judul adalah kepala karangan. Judul dapat kita tetapkan sendiri sesuai dengan topik ataumasalah yang dibahas. Kriteria judul karangan yang baik adalah sebagai berikut:
a.       Singkat
b.      Relevan dengan isi atau topik atau tema.
c.       Provokatif atau menarik perhatian pembaca.
d.      Mengandung kata-kata kunci.
e.       Menggunakan kata denotatif
Setelah menentukan topik sesuai dengan petunjuk di atas terlebih dahulu kita arus menguji apakah topik-topik itu benar-benar cukup sempit dan terbatas ataukah masih terlalu umum dan mengambang. Topik yang sudah mengkhusus dapat lagsung diangkat da ditetapkan menjadi judul karya ilmiah.
Pada dasarnya jika sudah dilakukan pembatasan topik, judul karangan ilmiah bukanlah hal yang sulit ditetapkan. Karena, pada dasarnya langkah-langkah yang ditempuh dalam pembatasan topik sama saja dengan langkah-langkah dalam penetapan judul. Perbedaannya adalah bahwa pembahasan topik harus dilakukan sebelum penulisan karya ilmiah dimulai atau dapat juga setelah karangan ilmiah itu selesai. Bahkan dapat pula penetapan judul dilakukan di tengah-tengah proses penulisan karya ilmiah. Jika sudah ada topik yang terbatas, karya ilmiah sudah bias mulai digarap walaupun judul belum ada. Intinya, yang harus disiapkan lebih dahulu oleh penulis adalah topik yang jelas dan terbatas.
Selain dengan cara pembatasan topik, penetapan judul karya ilmiah dapat pula ditempuh dengan melontarkan pertanyaan-pertanyaan masalah apa, mengapa, dan bagaimana. Mungkin saja, pertanyaan itu perlu dikurangi atau ditambah degan pertanyaan lain yang masih relevan.
Berikut adalah contoh penetapan judul dengan cara bertanya:
1.      Kita bertanya dengan masalah apa. Jawaban yang kita temukan tentu bermacam-macam. Kita tentu memilih masalah yang paling dekat dengan kita, yang paling menarik perhatian kita, yang paling kita kuasai. Contohnya adalah:
a.       Sumber daya insani
b.      Demokrasi ekonomi
c.       Kebudayaan sosial
2.      Jika masalah sudah ditentukan, kita dapat bertanya dengan mengapa. Jawaban yang mungkin timbul untuk pertanyaan mengapa ialah:
a.       Meningkat
b.      Mengembang
c.       Memahami
3.      Judul karangan haruslah berbentuk frasa, bukan berbentuk kalimat. Oleh karena itu, kata-kata diatas dapat kita jadikan kata benda agar dapat dijadikan judul karangan, seperti:
a.       Meningkat menjadi peningkatan;
b.      Mengembang menjadi pengembangan;
c.       Memahami menjadi pemahaman.
4.      Sebenarnya dapat saja kata-kata tersebut tetap kata kerja asalkan judul yang dibuat berupa kalimat. Dengan dua penyataan diatas, akan ditemukan judul sebagai berikut.
a.       Peningkatan Kualitas Sumber Daya Insani.
b.      Pengembangan Demokrasi Ekonomi sebagai Keharusan.
c.       Pemahaman Kebudayaan Popular sebagai Bagian Kebudayaan Mondial.
5.      Agar karya ilmiah tersebut dapat berpijak pasa suatu masalah yang terbatas dan ruang lingkup yang tidak terlalu luas, judul karya ilmiah itu harus dibatasi lagi, misalnya dengan menyebut suatu tempat. Pertanyaan di mana akan memberikan jawaban tentang objek yang sedang diteliti. Misalnya:
a.       Di Pedesaan;
b.      Di Indonesia;
c.       Di Dunia.
6.      Kalau dengan pertanyaan di mana diperoleh jawaban yang masih terlalu luas, pertanyaan kapan dapat mempersempit suatu judul karangan ilmiah. Pertanayaan kapan akan memberikan jawaban antara lain :
a.       Pada Akhir Abad ke XX;
b.      Dalam Dekade 1990-an;
c.       Menjelang Millennium III.
7.      Setelah menggunakan pertanyaan masalah apa, mengapa , dimana, dan kapan, kini kita memiliki judul karya ilmiah sebagai berikut :
(1)   “Peningkatan Pendidikan di Pedesaan pada Akhir Abad XX”.
(2)   “Pengembangan Dekorasi Ekonomi sebagai Keharusan di Indonesia dalam Dekade 1990-an”.
(3)   “Pemahaman Kebudayaan Populer sebagai Bagian Kebudayaan Mondial pada Milenium III”.
Terkadang pertanyaan di mana tidaklah diperlukan, tetapi pertanyaan kapan diperlukan atau sebaliknya. Artinya, tidak selalu judul karya ilmiah harus menunjukkan tempat dan/ atau waktu. Judul berikut merupakan jawaban pertanyaan masalah apa, mengapa dan, tanpa pertanyaan kapan: “ Pengembangan Industri Logam di Batur Cerpen Klaten, Jawa Tengah”. Judul di bawah ini merupakan jawaban pertanyaan masalah apa, mengapa dan kapan, tanpa pertanyaan di mana: “ Pergumpulan Kebudayaan Tradisi dengan Kebudayaan Modern Dewasa Ini”. Judul berikut sudah cukup sempit walaupun tanpa menjawab pertanyaan di mana dan kapan: “ Pengembangan Budaya Intelektual melalui Pres Kampus”. Terkadang pembatasan judul itu dilakukan dengan member subjudul itu antara lain berfungsi membatasi judul dan/ atau berfungsi sebagai penjelasan atau keterangan judul utama. Dalam hal itu, antara judul utama dan subjudul harus dicantumkan titik dua seperti di bawah ini.
“ Pengenbangan Budaya Akademik Mahasiswa di Perguruan Tinggi: antara Cita dan Realita”. Judul-judul karya ilmiah berikut mungkin cocok untuk ditulis oleh mahasiswa.
(1)   Fakultas Ekonomi
Topik: Sistem Akuntansi
Judul:
a)      “Peningkatan sistem Akuntansi pada Perusahaan Tahu Tempe di Surakarta”.
b)      “Peran Akuntansi dalam Pengembangan Manajemen Perguruan Tinggi”.
(2)   Fakultas Psikologi
Topik: Psikologi Islam
Judul:
a)      “Pengembangan Kecerdasan Emosional untuk Menunjang Keberhasilan Karier”.
b)      “Peran Psikolog Islami dalam Kehidupan Manusia Menjelang Abad XXI”.
(3)   Fakultas Ilmu Kedokteran
Topik: Pengobatan Tradisional
Judul:
a)      “Pencegahan HIV / AIDS melalui Hubungan Seks yang sehat”.
b)      “Pemanfaatan Buah Delima dalam Pengobatan Tradisional”. 





DAFTAR PUSTAKA


http://hennykartika.wordpress.com/2008/01/27/perumusan-masalah/27 Januari 2010.

http://makalahilmiah.multiply.com/journal/item/9/MASALAH_PENELITIAN?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem


Nugrahani, Farida; Ali, Imran. 2007. Metode Penulisan Karya Ilmiah. Yogyakarta: Pilar Media (Anggota IKAPI)

HUBUNGAN ANTAR VARIABEL

Ada tiga kategori hubungan variabel, yakni hubungan simetris, hubungan tidak simetris, dan hubungan timbal  balik.
1.1  Hubungan Simetris
Hubungan Simetris adalah hubungan manakala variabel yang satu tidak disebabkan oleh variabel lainnya. Hubungan variabel yang tidak simetris mempunyai ciri- ciri sebagai berikut:
  • Kedua variabel merupakan indikator dari konsep yang sama                                                     Misalnya : Kualifikasi guru yang baik adalah tingkat pendidikan dan pengalaman mengajarnnya.                    Variabel tingkat pendidikan dan variabel pengalaman mengajar merupakan hubungan simetris, sebab kedua variabel tidak saling mempengaruhi. Tingkat pendidikan tidak dipengaruhi oleh tingkat mengajar, demikian pula sebaliknya.
  • Variabel merupakan akibat dari faktor yang sama                                                                          Misalnya : Tes seleksi masuk universitas yang ketat menyebabkan banyak calon yang jatuh, tetapi juga dapat meningkatkan prestasi mahasiswa.                                                                                               Hubungan tersebut adalah simetris, karena tidak ada hubungan antara calon mahasiswa yang jatuh dengan kenaikan prestasi mahasiswa.
  • Kedua variabel memiliki ikatan fungsional                                                                                      Misalnya : Kekuasaan mengalami kaitan fungsi dengan tugas dan tanggung jawab. Akan tetapi tidak berarti kekuasaan dipengaruhi oleh tugas dan tanggung jawab.                                                                                        Atau sebaliknya, tugas dan tanggung jawab ditentukan dan dipengaruhi kekuasaan.
  • Hubungan kebetulan                                                                                                                               Misalnya : Anak pandai tidak lulus, tetapi anak bodoh lulus dengan baik.                                                  Jadi, tidak ada hubungan antara bodoh dengan kelulusan, dan pandai dengan kegagalan.                      Hubungan simetris dengan empat ciri di atas jarang digunakan dalam penelitian ilmu sosial, termasuk penelitian pendidikan.

1.2  Hubungan Tak Simetris
Hubungan tak simetris ditandai dengan adanya hubungan atau kaitan antar variabel yang satu dengan yang lainnya. Hubungan tersebut bisa hubungan pengaruh, sumbangan, atau kontribusi, ataupun hubungan sebab akibat. Oleh karena itu hubungan tak simetris merupakan inti dari penelitian ilmu sosial, termasuk penelitian pendidikan. Hubungan yang terjadi biasanya dalam bentuk hubungan positif dan fungsional.
Hubungan positif biasanya terdapat hubungan yang searah. Misalnya, makin tinggi tingkat pendidikan guru, maka makin tinggi kualitas pengajaran. Demikian pula makin rendah kompetensi guru, makin rendah hasil belajar siswa. Akan tetapi makin tinggi kompetensi guru makin rendah hasil belajar. Maka hubungan tersebut adalah negatif atau berbanding terbalik.
Sedangkan yang dimaksud dengan hubungan fungsional adalah kedua variabel (variabel bebas dan variabel terikat) menunjukkan adanya kaitan fungsi. Misalnya, adanya pengaruh, adanya sunbangan atau kontribusi, atau menjadi penyebab variabel lainnya. Secara statistik sumbangan ataupun pengaruh dapat dihitung besarnya. Ada beberapa ciri dari hubungan tidak simetris, antara lain sebagai berikut:
  •      Hubungan stimulus-respon                                                                                                            Stimulus bersal dari luar individu, sedangkan respons adalah reaksi atau jawaban dari individu. Hubungan yang terjadi biasanya dalam bentuk pengaruh dan efek dari variabel pengaruh atau variabel bebas terhadap variabel terikat atau terpengaruh / respons.                                                                Misalnya : Pengaruh metode belajar terhadap hasil belajar, pengaruh bimbingan kelompok terhadap kesanggupan menyesuaikan diri, pengaruh kepemimpinan demokratis terhadap kepuasan kerja.           Penelitian dapat menggunakan metode eksperimen atau metode ex post de facto.
  •      Hubungan disposisi-responsApabila stimulus datan dari luar, disposisis sudah berada dalam diri individu itu sendiri, yakni berupa kecenderungan untuk menunjukkan respons tertentu pada situasi tertentu. Contoh disposisi antara lain sikap, kebiasaan, dorongan, kepercayaan, nilai. Sedangkan respons ditunjukkan dalam bentuk perilaku individu.                                                                                Misalnya : Hubungan antara kebiasaan membaca dengan kemampuan berbahasa, hubungan antar sikap antara profesi keguruan dengan kemampuan mengajar, hubungan antara motivasi belajar dengan prestasi belajar yang dicapainya.                                                                                                            Hubungan ini banyak digunakan dalam penelitian pendidikan.
  •      Hubungan karakteristik individu                                                                                             Yang dimaksud dengan karakteristik di sini adalah sifat atau sikap yang relatif menetap dalam individu, misalnya jenis kalamin, tingkat pendidikan, agama, usia, pengalaman kerja, keahlian atau jurusan. Contohnya adalah jenis kelamin, tingkat pendidikan dan keahlian guru dalam hubungannya dengan sikap terhadap profesi keguruan. Jenis hubungan karakteristik individu dengan perilaku dapat pula dikombinasikan dengan ciri hubungan pertama dengan ciri hubungan kedua. Caranya ialah dengan memasukkan karakteristik individu sebagai variabel kontrol.                                                         Misalnya : Pengaruh kompetisi guru terhadap prestasi belajar siswa ditinjau dari tingkat pendidikan dan jenis kelamin.
  •  Hubungan antara cara dengan tujuan                                                                                     Misalnya : Hubungan antara lamanya belajar dengan hasil belajar yang dicapainya, hubungan antara banyaknya pekerjaan rumah dengan prestasi belajar di sekolah.                                                  Penelitian di bidang ilmu sosial dan pendidikan pada umumnya menggunakan hubungan tak simetris, seperti disposisi-respons, karakteristik individu dengan perilaku, stimulus-respons, dan dalam hal tertentu hubungan antara tujuan dengan cara.


1.3  Hubungan Timbal Balik
Hubungan timbal balik adalah hubungan yang ada pada suatu saat variabel yang satu menjadi penyebab variabel yang lain, dan pada saat lain terjadi sebaliknya. Jadi pada suatu saat variabel X mempengaruhi variabel Y, dan pada saat yang lain variabel Y mempengaruhi variabel X.
Misalnya : Siswa yang biasanya belajar teratur ternyata berprestasi tinggi. Pada suatu saat tiba giliran bahwa suatu siswa yang berprestasi tinggi menyebabkan belajar teratur.
Di antara ketiga pola hubungan antar variabel di atas, yauti hubungan simetris, hubungan tak simetris, dan hubungan timbal balik, hubungan yang paling banyak digunaka dalam penelitian ilmu sosial dan pendidikan adalah pola hubungan tak simetris dan hubungan timbal balik.

Hubungan simetris bisa terdiri dari dua variabel, dan bisa juga lebih dari dua variabel. Hubungan dua variabel ada yang bersifat bivariat dan ada yang bersifat multivariat.

HAKIKAT VARIABEL


PENGERTIAN 
Variabel mengandung pengertian ukuran atau ciri yang dimiliki oleh anggota-anggota suatu kelompok yang berbeda dengan yang dimiliki oleh kelompok yang lain. Pengertian lain bahwa variabel adalah sesuatu yang digunakan sebagai ciri, sifat atau ukuran yang dimiliki atau didapatkan oleh satuan penelitian tentang sesuatu konsep tertentu.
Pengukuran variabel adalah proses menentukan jumlah atau intensitas informasi mengenai orang, peristiwa, gagasan, dan atau obyek tertentu serta hubungannya dengan masalah atau peluang bisnis.
Dengan kata lain, menggunakan proses pengukuran yaitu dengan menetapkan angka atau tabel terhadap karakteristik atau atribut dari suatu obyek, atau setiap jenis fenomena atau peristiwa yang mengunakan aturan-aturan tertentu yang menunjukkan jumlah dan atau kualitas dari faktor-faktor yang diteliti.

PROSES PENGUKURAN 
Terdiri dari :
1. Pembentukan “ constract “ (Construct Development)
2. Skala Pengukuran ( Measurement Scale )

 DEFINISI OPERASIONAL VARIABEL
• Definisi suatu konsep atau constract merupakan suatu definisi yang menyatakan secara jelas dan akurat mengenai bagaimana suatu konsep atau constract tersebut diukur.
• Pengukuran dengan melihat dimensi perilaku, aspek, atau karakteristik yang ditunjukkan oleh suatu konsep.
Merumuskan definisi operasional variabel perlu memperhatikan definisi teoritiknya dan kebutuhan kondisi teknik di lapangan. Jadi perlu memperhatikan keterkaitan dengan standarisasi pengukuran misalnya : pengertiannya, bagaimana cara mengukur, apa alat ukurnya, dan kriteria hasil pengukuran.

SKALA PENGUKURAN
Pada dasarnya terdapat 4 jenis skala pengukuran, yaitu :
1. Skala Nominal
• Adalah skala yang memungkinkan peneliti mengelompokkan subyek kedalam katagori atau kelompok.
• Misal gender responden dapat dikelompokkan dalam 2 katagori : Pria dan wanita. Skala gender dapat dinyatakan dalam angka :  Pria = 1 dan Wanita = 2.
• Skala Nominal bersifat mutualy exlusive dan masing-masing anggota himpunan tersebut tidak ada perbedaan nilai. 
2. Skala Ordinal
• Skala Ordinal tidak hanya menyatakan katagori tapi juga menyatakan peringkat katagori tersebut.
• Skala Ordinal menjawab atas suatu pertanyaan, responden diminta untuk memberikan urutan alternatif jawaban yang paling sesuai.
• Misal rangking jawaban yang dibuat berdasarkan preferensi Responden :
1. Senang sekali, 2. Senang, 3. Kurang senang, 4. Kurang senang sekali.
  ( beda antara dua titik tidak dapat diukur).
3. Skala Interval
• Skala Interval memungkinkan mengukur beda antara dua titik dalam skala, menghitung means dan standar deviasi data.
• Contoh :
Jarak waktu jam.08.00 – 10.00 adalah sama dengan jarak waktu 16.00 – 18.00. Tetapi kita tidak dapat menyatakan bahwa jam.16.00 dua kali  lebih lambat dibandingkan jam.08.00.
4. Skala Rasio
• Skala Rasio merupakan kedudukan data yang tertinggi, dimana memiliki nilai nol yang orisinal.
• Misal : Jika aset perusahaan A sebanyak Rp. 10 Milyar dan aset perusahaan B sebanyak Rp. 5 Milyar,   maka rasio A & B adalah 2 : 1.

 BENTUK-BENTUK DATA
 1. Deret waktu (Times Series)
 Pengamatan data misal harga saham berdasarkan perkembangan dari waktu kewaktu, misal     perkembangan harga saham dari hari kehari berikutnya..
 2. Lintas sektor (Cross section)
Data untuk suatu kelompok (group) misal data-data industri garmen pada tahun tertentu saja.
 3. Gabungan keduanya (Pool)
Data-data untuk industri garmen yang diambil dari tahun 2001 sampai dengan tahun 2007.

UJI VALIDITAS DAN UJI RELIABILITAS
Apabila kuesioner sebagai alat ukur atau alat pengumpul informasi telah selesai dibuat, belum berarti kuesioner tersebut dapat langsung digunakan untuk mengumpulkan data/ informasi. Kecuali kuesioner tersebut telah diuji validitas dan reliabilitasnya (mendasarkan pada kuesioner peneliti sebelumnya).
Kuesioner dapat digunakan sebagai alat ukur penelitian perlu diuji validitas dan reliabilitasnya, karena syarat instrumen penelitian yang baik digunakan untuk mengukur variabel harus memenuhi unsur-unsur akurasi, presisi dan peka. Agar diperoleh distribusi nilai hasil pengukuran mendekati normal, maka sebaiknya jumlah responden untuk uji coba kuesioner paling sedikit 30 orang.

VALIDITAS
Validitas/ kesahihan adalah suatu indeks yang menunjukkan alat ukur tersebut benar-benar mengukur apa yang diukur. Validitas ini menyangkut akurasi instrumen. Untuk mengetahui apakah kuesioner yang disusun tersebut itu valid/ sahih, maka perlu diuji dengan uji korelasi antara skor (nilai) tiap-tiap item pertanyaan dengan skor total kuesioner tersebut. Adapun teknik korelasi yang biasa dipakai adalah teknik korelasi product moment dan untuk mengetahui apakah nilai korelasi tiap-tiap pertanyaan itu significant, maka dapat dilihat pada tabel nilai product moment atau menggunakan SPSS untuk mengujinya. Untuk item-item pertanyaan yang tidak valid harus dibuang atau tidak dipakai sebagai instrumen pertanyaan.

RELIABILITAS
Reliabilitas/keterandalan ialah indeks yang menunjukkan sejauhmana suatu alat ukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan. Hal ini berarti menunjukkan sejauhmana hasil pengukuran tersebut tetap konsisten jika dilakukan pengukuran dua kali atau lebih terhadap gejala yang sama. Untuk diketahui bahwa perhitungan/ uji reliabilitas harus dilakukan hanya pada pertanyaan-pertanyaan yang sudah memiliki atau memenuhi uji validitas, jadi jika tidak memenuhi syarat uji validitas maka tidak perlu diteruskan untuk uji reliabilitas.

HAKIKAT VARIABEL DAN ATRIBUT
Variabel (nampak dari kata vary dan able) berarti "bisa beragam." Artinya, variabel adalah konsep yang memiliki keragaman nilai.
Variabel adalah pengelompokan logis atribut-atribut, Sebagai contoh: laki-laki dan perempuan adalah atribut, sedangkan jenis kelamin atau gender adalah variabel.
Atribut adalah ciri-ciri  atau kualitas yang memaparkan suatu obyek - dalam hal ini seseorang, misalnya:perempuan, berkebangsaan Timur, terasing, konservatif, tak jujur, cerdas, petani, dan sebagainya. Apapun yang Anda katakan untuk memaparkan diri Anda sendiri atau orang lain pasti memuat atribut.

JENIS-JENIS VARIABEL
(1)   variabel diskrit (discrete variable)
(2)   variabel bersambungan (continuous variable)
Jenis Variabel
Diperoleh dari kegiatan
Contoh
DISKRIT
MENGHITUNG
Jumlah anak, jumlah sepeda motor, jumlah …
BERSAMBUNGAN
MENGUKUR
Tinggi badan, bobot badan, jarak rumah dengan tempat kerja, dsb…

JENIS-JENIS VARIABEL PENELITIAN
1)      Variabel bebas atau variabel penyebab (independent variables)
Variabel bebas adalah variabel yang menyebabkan atau memengaruhi, yaitu faktor-faktor yang diukur, dimanipulasi atau dipilih oleh peneliti untuk menentukan hubungan antara fenomena yang diobservasi atau diamati.
2)      Variabel terikat atau variabel tergantung (dependent variables).
Variabel terikat adalah faktor-faktor yang diobservasi dan diukur untuk menentukan adanya pengaruh variabel bebas, yaitu faktor yang muncul, atau tidak muncul, atau berubah sesuai dengan yang diperkenalkan oleh peneliti.
Contoh:
Jika seorang peneliti ingin mengkaji hubungan antara dua variabel, misalnya variabel waktu untuk belajar (A) dan prestasi belajarnya (B), maka pertanyaan atau masalah yang diajukan , “Bagaimanakah prestasi belajar yang dicapai apabila waktu yang dipakai untuk belajar lebih banyak atau lebih sedikit?”
Banyak sedikitnya waktu belajar yang dipakai oleh pebelajar diidentifikasikan sebagai variabel bebas, sedangkan prestasi belajar sebagai variabel terikat. Variabel ini (waktu belajar) dimanipulasi atau diubah untuk menyebabkan terjadinya perubahan pada variabel lainnya (prestasi belajar).
3)      Variabel Moderator
Variabel moderator adalah faktor-faktor atau aspek-aspek yang diukur, dimanipulasi, atau dipilih oleh peneliti untuk menentukan apakah variabel tersebut mengubah hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat.
Contoh:
Hipotesis : Kecermatan membaca siswa perempuan lebih baik daripada siswa laki-laki setelah mereka mendapat pembelajaran membaca cepat dan lambat.
Variabel bebas : pembelajaran membaca cepat dan lambat
Variabel moderator : siswa perempuan dan laki-laki
Variabel terikat : kecermatan
4)      Variabel Kontrol
Variabel yang dinetralisasi yang diidentifikasi sebagai variabel kontrol atau kendali, atau variabel kontrol adalah variabel yang diusahakan untuk dinetralisasi oleh peneliti. Dalam penelitian di samping strategi pembelajaran dan tingkat kecerdasan, peneliti juga mempertimbangkan tingkat usia, misalnya kelompok umur tertentu, maka umur dalam penelitia ini dianggap sebagai variabel kendali.
5)      Variabel intervening
Adalah yang tidak pernah diamati dan hanya disimpulkan berdasarkan pada variabel terikat dan bebas.
Contoh:
Hipotesis: Pada siswa yang memiliki minat yang meningkat terhadap tugas yang diberikan, unjuk kerja terhadap tugas yang diukur meningkat.
Variabel bebas : minat terhadap tugas.
Variabel intervening : belajar.
Variabel terikat : unjuk kerja tugas.

DAFTAR PUSTAKA


http://penjagahati-zone.blogspot.com/2011/04/pengertian-variabel-dan-jenis-jenis.html diakses pada tanggal 19 Oktober 2011 pada pukul 22.14 WIB.